Aku,Sahabatku Dan Pacarku
“Tutt… tuttt” nada sms dari ponsel Raya membuyarkan
konsentrasinya. Dia pun segera mengalihkan perhatian dari buku yang
sedang dibacanya. “kamu dimana, Ray?” pesan singkat dari Doni, teman
satu kampus yang sekaligus jadi sahabatnya. Bukan Cuma sekedar sahabat,
tapi dia juga sangat spesial bagi raya. Tak lama kemudian mata Raya
tertuju pada jam di handphonenya: 05.30 WIB. Ternyata sudah hampir satu
jam dia menghabiskan waktu di perpustakaan kampus ini. Sekilas Raya
melirik ke jendela. “akhirnya hujan mengguyur kota ini juga” batin Raya.
“Untung selalu sedia payung” Raya membatin.
Tanpa pikir panjang Raya segera beranjak keluar, mengeluarkan payung
lipat dari tas dan segera meninggalkan perpustakaan. Raya bahkan lupa
membalas pesan singkat dari Doni. Doni saat ini sedang menunggunya di
kosan. Dia nggak mau membiarkan cowok itu terlalu lama menunggu. Tak
butuh waktu lama untuk sampai di kosannya. Raya memang sengaja memilih
kos-kosan dekat kampus katanya biar hemat waktu, tenaga dan juga uang.
Raya juga termasuk mahasiswa yang aktif sehingga dia merasa perlu
memiliki tempat tinggal yang strategis untuk menunjang semua
aktivitasnya.
Sesampai di kosan, Doni menyambutnya antusias. “Miss kutu buku dari
mana aja sih? Pasti dari perpustakaan ya?” “udah tau, nanya.” raya
menjawab ketus. Cowok satu ini memang paling suka bercanda dan paling
suka meledek raya. raya pun selalu tertawa dibuatnya. membuat raya
merasa tak pernah kesepian. “aku mau ngajak kamu makan malam ray.” “ada
apa nih? Lagi banyak duit ya? hahahha” canda raya. “nggak sih. aku Cuma
kasihan aja sama kamu soalnya selain aku nggak ada lagi cowok yang mau
ngajak kamu makan malam di luar. hahahaha” balas Doni. Tanpa ampun, raya
pun langsung mencubit lengan raya.
Mereka pun akhirnya pergi. Sepanjang jalan tak henti-hentinya mereka
bercerita, bercanda, tertawa. Sesaat Raya pun bisa lupa akan rasa
kangennya pada cowok pujaan hatinya yang nan jauh di seberang lautan
sana.
Raya menghempaskan badan di kasurnya yang empuk. Matanya tertuju pada
sebuah bingkai di atas meja. Rasa kangennya pada cowok di sebelahnya
dalam photo itu muncul lagi ke permukaan. Raya kangen sama Rama Aditya,
kekasihnya. Cowok ganteng dengan tubuh atletis, hidung mancung, pintar
dan berprestasi semasa sekolah mereka. dia hampir sempurna di mata Raya.
dari semua faktor-faktor penunjang yang akhirnya membuat Rama
dinobatkan sebagai cowok idaman versi raya dan teman-temannya dulu di
SMA, ada satu hal yang membuat Rama sangat istimewa bagi Raya: dia
sangat baik dan sayang pada Raya, membuat teman-temannya iri melihat
Raya. tak heran, Raya pun sangat menyayangi Rama. Pintu hati Raya seolah
sudah tertutup buat yang lain. Pikiran Raya menerawang jauh ke masa
itu.
“Aku diterima di Fakultas Kedokteran UGM, Ray.” Rama berusaha untuk
terlihat santai saat menyampaikan berita ini pada Raya. “Selamat ya!”
akhirnya kamu bisa masuk Fakultas Kedokteran seperti keinginanmu. Jadi
Dokter itu kan memang cita-citamu sejak kecil kan? Raya juga berusaha
terlihat biasa. “itu berarti kita akan berpisah dalam waktu yang cukup
lama. Aku pasti kangen sama kamu, Ray.” Rama membelai sayang rambut
Raya. “Tapi kamu pasti kembali lagi kan sama aku? Kamu kan sayang sama
aku dan gak akan pernah berubah. Benar kan?” Raya tersenyum manja.
Sebenarnya ada sesak dan rasa asing yang tak Raya mengerti, tapi dia
berusaha mencairkan suasana. Dia tak ingin Rama terbebani jika Raya
menunjukkan ekspresi sedih di hadapan Rama.
Tepat seminggu sejak pertemuan itu, Raya pun harus benar-benar melepas Rama.
“Aku akan sering-sering kasih kamu kabar. Kamu di sini jangan
macam-macam ya. Ingat kalau kamu sudah ada yang punya” Rama mencubit
gemes pipi kekasihnya itu.
“Baik boss.” Raya tersenyum. “Tapi aku yakin justru kamu yang akan
macam-macam selama di sana.” “Maksudnya?” Rama mengerenyit. Pura-pura
bego. “Aku cuma bercanda.” Akhirnya Raya mengurungkan kalimatnya.
Pembicaraan mereka pun terhenti saat mendengar pengumuman
penerbangan. Rama bergegas menyandang tasnya. Raya pun mengikuti. Tak
lupa rama mengecup lembut kening raya, mengucapkan salam perpisahan.
“Aku janji, aku akan kembali, Ray” bisik Rama. Raya pun tersenyum. “Aku
akan tunggu kamu tepati janji itu.” Raya pun berbisik. tapi ada keraguan
dalam hatinya. bukan ragu akan kalimatnya barusan. Tapi entah kenapa
raya pun gak tau. Raya menunggu hingga pesawat yang membawa Rama
benar-benar lepas landas. Raya seolah bisa melihat sosok Rama di situ.
Melambaikan tangan untuknya.
“Ehem… eheeemm…” Indy, tetangga kamar sebelah mengejutkan raya.
Membuyarkan sosok Rama yang sejak tadi mampir di kepalanya. “Pasti
mikirin kekasih hati yang nan jauh di sana ya?” Indy ikut-ikutan rebahan
di sebelah Raya. “Nggak.gak salah lagi. hehehe.” Raya merasa bahagia,
selain punya Doni di sini, dia juga punya teman sebaik Indy. “kamu yakin
dia bakal setia? Jangan-jangan dia punya pacar di sana.” Indy bertanya
sok tau. “Kamu teman atau bukan sih? Masa doa’in yang nggak-nggak buat
sahabat kamu sendiri?” Raya manyun. “bukan begitu indy sayang. Aku Cuma
kasihan aja sama kamu kalau suatu saat nanti kamu kecewa.” “Maksudnya?”
“cmon Raya sayang… mana ada sih cowok yang bisa pacaran jarak jauh.
paling juga di sana dia cari yang lain walaupun dia tetap sayang sama
kamu dan jalin hubungan baik. Aku Cuma ingin kamu sedikit lebih
realistis biar kamu juga bisa buka hati buat cowok lain, jangan Cuma
Rama yang ada di hati kamu.” Indy ngomong panjang lebar. Kalau sudah
begini, sebenarnya Raya juga nggak bisa protes banyak. Indy kadang ada
benarnya juga. Tapi dia terlalu sayang sama Rama, pujaan hatinya sejak
SMA. Dalam hati raya pun tak bisa menebak bagaimana hubungannya kelak
dengan Rama. Tapi dia yakin, jika Tuhan menakdirkan mereka berjodoh,
Rama pasti kembali. tapi Raya tak bisa membagi hatinya saat ini untuk
yang lain. Raya mungkin tipe cewek yang “satu untuk selamanya”. Jika dia
sudah cinta, rasanya sulit untuk mengubahnya apalagi membaginya dengan
yang lain.
“Ray, nanti malam kamu ada waktu luang nggak?” Doni tiba-tiba sudah
ada di sampingnya. Rupanya sejak tadi dia sudah memperhatikan Raya.
“ada. kenapa? mau ngajak makan lagi? Ayo. Siapa takut?” Raya sumringah.
memperlihatkan senyumnya yang manis. “itu salah satunya. Tapi ada yang
lebih penting dari itu.” Doni tiba-tiba menunjukkan muka serius gak
seperti biasanya yang selalu meledek Raya. “Bagus. Jam 07.00 tepat aku
jemput kamu.” Doni pun pergi sambil melambaikan tangan. Raya sebenarnya
merasa ada yang aneh. Tapi saat ini dia sedang sibuk mengerjakan tugas
kuliahnya. Raya pun berusaha mengalihkan perhatiannya dari Doni.
Tepat jam 07.00 malam, seperti janjinya, Doni pun sudah tiba di kosan
Raya, lengkap dengan gitar kesayangannya. Raya pun dengan senang hati
menyambutnya seperti biasa. “Malam vokalist ganteng.” goda Raya. Doni
memang punya suara yang sangat bagus. Satu kampus juga tau itu. Raya
bahkan pernah bilang kalau Doni sebenarnya salah jurusan. “Kenapa kamu
nggak kuliah seni, biar bisa ngembangin bakat kamu itu.” tanya Raya satu
waktu. “Nyanyi dan musik itu Cuma hobby. Selain musik, interest aku ya
di sini, Ilmu Hukum.” “Cieee… nanti kalau aku tertimpa masalah hukum,
kamu aku tunjuk jadi pengacaranya. tapi jangan mahal-mahal lho
bayarannya.” Canda Raya. “Buat kamu gratis deh. Lagian apa sih yang
nggak buat kamu Ray?” “tapi kalau kamu jadi artist, aku pasti dukung
kamu seratus persen. Bahkan aku bersedia jadi Manajer kamu, siapa tau
juga nanti aku bisa populer. hahaha.” “Yee, bilang aja kamu yang pingin
jadi artis.” Mereka pun tertawa bersamaan.
“Ada yang ingin aku sampaikan ke kamu Ray” lamunan Raya pun terputus
mendengar suara Doni. “Ngomong aja kali.” Balas raya. Doni masih asing
sejak tadi siang, tapi Raya berusaha cuek. “Mungkin Cuma perasaan aku
aja.” Batin raya mencoba menghibur. tapi bukannya ngomong, Doni malah
petik gitar sambil menyanyikan sebuah lagu.
Bila cinta menggugah rasa
Begitu indah mengukir hatiku
Menyentuh jiwaku
Hapuskan semua gelisah
Duhai cintaku duhai pujaanku
Datang padaku tetap di sampingku
Kuingin hidupku
Selalu dalam peluknya
Terang saja aku menantinya
Terang saja aku mendambanya
Terang saja aku merindunya
Karna dia karna dia begitu indah
“Gimana? Bagus nggak?” Doni menyanyikan salah satu lagu Padi, Group
Band favoritnya. “Bagus donk. Doni gitu loh.” Raya ngomong begitu sambil
mengacungkan jempol. “Terima kasih” ucap Doni pelan. “Btw, gimana kabar
pujaan hati kamu? “Dia baik.” “Dia sering ngasih kabar atau nanyain
kabar kamu?” Tanya Doni lagi. “Sering donk. Heiii, kamu kenapa sih?”
Raya mulai resah. “Nggak kenapa-kenapa Ray. Rama beruntung ya punya
cewek sebaik kamu.” Sampai sini Doni diam. “Memangnya kamu nggak merasa
beruntung punya teman sebaik aku?” Raya masih tak terpengaruh, masih
bercanda. “Seandainya aku kenal lebih dulu sama kamu. Atau seandainya
kamu nggak pacaran sama dia.” “Kamu ngomong apa sih Don? Kamu nggak
sakit kan?” Raya pura-pura memegang jidat Doni. “Lagu yang aku nyanyiin
tadi itu buat kamu Ray. Aku menyayangimu lebih dari sahabat. Bukan cuma
itu, aku juga cinta sama kamu Ray. Rasanya aku nggak bisa membiarkanmu
dengan orang lain. Aku tau ini hampir mustahil Ray. Aku juga tau kalau
kamu sangat sayang sama Rama. Maaf, aku mencintaimu Ray..”
Untuk pertama kalinya Raya merasa sangat kesepian di sini. Masih
hampir gak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Sahabat yang
sangat disayanginya ternyata menaruh hati sama dia. Raya merasa tak tau
harus berbuat apa. Tangisnya pun pecah.
Sejak saat itu Doni mulai menjauhi Raya. Semua berubah total. Tapi
Raya tetap sayang sama Doni. Masih menganggapnya sahabat walaupun mereka
sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Selain bersama Indy, Raya
lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri. Sesekali bergabung dengan
teman-temannya yang lain, yang juga teman Doni. Mereka biasaya hanya
bertemu di situ. Aktivitas yang padat membuat Raya perlahan mulai
terbiasa. Saat-saat seperti ini dia semakin sering merindukan Rama.
Tiba-tiba nada dering ponselnya berbunyi “Halo…” Suara di sana.
“Kebetulan banget kamu nelpon. Aku baru mikirin kamu loh.” Balas raya.
“Masa sih? Aku kangen banget sama kamu Raya sayang.” “Sama donk. Aku
berkali-kali lipat lebih kangen.” Balas Raya manja. “Bulan depan, aku
rencana mau pulang ke kamu Ray. Kebetulan aku punya waktu libur yang
cukup banyak. Pingin banget segera ketemu sama kamu.”
Cukup lama mereka berbicara di telepon. Mencurahkan perasaan rindu
masing-masing. Raya meraih photo Rama. Menatapnya dalam-dalam. Kangennya
sudah sampai ke ubun-ubun. “satu bulan lagi. Sabar…” Batin raya. Dia
sudah membayangkan seperti apa pertemuannya nanti. Raya mendekap photo
Rama di dadanya hingga akhirnya dia tertidur.
Raya sedang dalam perjalanan ke kampus untuk mencari referensi tugas
dari salah satu dosennya. Tiba-tiba Doni menghampirinya. Raya kaget tapi
juga senang bukan main. “Apa kabar Ray?” sapa Doni. “Tak pernah lebih
baik dari ini.” Jawab Raya. “o ya? Boleh tau kenapa?” “Aku senang
melihat kamu di sini dan yang lebih penting lagi sebentar lagi Rama akan
pulang. Dia akan di sini dalam waktu yang cukup lama.” Raya cerita
panjang lebar tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Doni sebenarnya
tak kaget. Raya memang selalu antusias jika sudah menyangkut pujaan
hatinya itu. Doni rasanya seperti menelan pil pahit. Doni pun tak tahu
sampai kapan nama Raya akan ada di hatinya. Belum ada satu pun cewek
yang mampu menggeser posisi Raya di hatinya walaupun bagi Raya sendiri
dia adalah sahabat.
“Maafkan aku Ray. Semua ini juga terjadi di luar dugaanku. Sama seperti
kecelakaan itu. Aku janji akan selalu menyayangimu Ray.Aku gak akan
lupain kamu. Kita akan tetap komunikasi” “Jangan ucapkan janji Ram. Aku
takut mendengarnya.” Raya berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh
di depan Rama. “Aku tau aku salah Ray. Tapi aku benar-benar sayang sama
kamu. Maafkan aku Ray.”
Kejadiannya begitu cepat. Sehari setelah menelepon Raya, mengabari
rencana kepulangannya, Rama mengalami kecelakaan. Rama menderita luka
cukup serius. Selama dirawat di Rumah Sakit, dia berkenalan dengan
seorang perawat yang sangat banyak membantunya. Nadia, gadis yang sangat
cantik yang dengan tulus dan setia merawat Rama hingga Rama benar-benar
sembuh. Raya pun tak tahu bagaimana kejadiannya hingga akhirnya mereka
berdua saling jatuh cinta. Ironis memang. Waktu empat tahun terkalahkan
oleh waktu yang hanya dua bulan.
Tempias air hujan dari jendela menyadarkannya bahwa ia kini sendiri,
Jauh dari keluarga dan orang-orang yang dicintai. Raya mengamati dua
buah kartu ucapan ulang tahun yang terletak di meja. Satu untuk Rama,
dan satu lagi untuk Doni. Mereka berdua memang memiliki tanggal lahir
yang hampir sama. Rama 16 mei, sedangkan Doni 17 Mei. Tak ada yang
berubah sejak mereka bertiga berpisah. Raya tak pernah lupa mengucapkan
dan mengirimkan kartu ucapan ulang tahun untuk dua pria yang sangat
disayanginya itu. pria yang mengajarkan banyak hal baginya, memberinya
kebahagiaan, kesedihan, juga kekuatan walaupun kekuatan itu seolah
dipersiapkan untuk prahara yang mereka berdua ciptakan sendiri untuknya.
Selasa, 18 Maret 2014
Rasa Cintaku Ini
Rasa Cintaku Ini
Kupandangi dua buah gantungan kunci darimu. Fotoku terpampang di situ dan ada fotomu dibaliknya. “Terimakasih ya sayang gantungan kuncinya”. Satu kecupan mesra mendarat di keningku. Damai yang aku rasakan.
“Maaf ya aku tadi gak balas bbmnya bunda, tadi sibuk. Sibuk bikin gantungan kunci itu maksudku”, katanya sembari tersenyum.
“Dasar ya ayah nakal deh suka ngerjain, tapi aku suka”, balasku.
Wahyu memang bukan sosok idaman wanita masa kini menurutku. Dia tidak tampan, juga tidak kaya. Di usianya yang ke 33 dia sudah punya 2 orang anak, istri yang setia dan ekonominya biasa-biasa saja. Tapi aku tidak tahu, kenapa aku malah jatuh cinta kepadanya.
Tiba-tiba air mataku jatuh menetes membasahi pipi. Sambil terisak kecil aku mendekap erat tubuhnya. Menangis dalam peluknya. Ada perasaan campur aduk yang menghujam ku. Semakin deras air mataku, semakin dia erat mendekapku.
“Bunda kenapa?”
“Bagaimana aku bisa jauh darimu ayah jika kau seperti ini?”, jawabku dalam isak tangis.
“Aku bingung, bunda kenapa menangis?”
“Aku hanya tak tahu harus bagaimana. Aku bukan yang sempurna. Aku pernah salah, aku pernah meninggalkanmu, aku punya masa lalu yang buruk.”
“Sudahlah bunda jangan seperti itu, ayah sudah memaafkan bunda, ayah bisa terima segala kekurangan dan kelebihan bunda, tolong jangan tinggalkan aku lagi”, pintanya sembari mengelus rambutku.
Seringkali aku merasa bersalah kepadanya. Dulu aku pernah menginggalkannya. Aku mengingkari janji ku. Aku hilang nyali ketika istrinya menelpon ku. Mengintrogasi kedekatanku dengan Wahyu. Berbeda saat aku berlibur ke pantai dengannya. Kita mengucap janji untuk melegalkan hubungan ini. Aku mau jadi yang kedua. Tapi ketika kudengar suara perempuannya, bak nuklir yang meledak menghancurkan nyali ku beterbangan bersama komitmen yang telah kita bangun bersama. Aku hilang arah dan meninggalkannya begitu saja. Menghilang dari akses hidupnya. Dalam pertanyaan besar yang tidak ia temukan jawabnya sampai pertemuan kita kembali di Bulan Juli lalu. Dia baru mengerti kenapa aku menghilang. Yang dia sayangkan aku tidak cerita kepadanya. Bahkan aku memvonis kecerobohannya sampai sang istri mengetahui hubungan ini. Mungkin aku begitu jahat padanya. Tapi ketakutanku jauh lebih besar daripada cinta ku. Bahkan ketika orang rumah menelpon, menceramahiku akibat kabar yang didapat dari istri Wahyu, mataku membelalak seketika, telinga serasa seperti kepiting rebus, panas memerah.
“Maafkan atas semua kesalahanku ya, aku janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku tak akan lari dari masalah”.
“Lantas jika dia tau bagaimana?”
“Aku akan mengakui cinta ku padamu, dan aku akan memintamu jadi suamiku”.
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin”
Kami berpelukan erat. Rasa damai menyelimutiku setiap kali aku bersamanya. Dan sekarang aku lebih tidak peduli jika suatu saat sang istri menemuiku, mau marah-marah ataupun membunuhku. Aku begitu yakin akan perasaanku saat ini. Tuhan, aku begitu mencintainya. Aku janji tidak akan meninggalkannya lagi apapun yang terjadi.
Kupandangi dua buah gantungan kunci darimu. Fotoku terpampang di situ dan ada fotomu dibaliknya. “Terimakasih ya sayang gantungan kuncinya”. Satu kecupan mesra mendarat di keningku. Damai yang aku rasakan.
“Maaf ya aku tadi gak balas bbmnya bunda, tadi sibuk. Sibuk bikin gantungan kunci itu maksudku”, katanya sembari tersenyum.
“Dasar ya ayah nakal deh suka ngerjain, tapi aku suka”, balasku.
Wahyu memang bukan sosok idaman wanita masa kini menurutku. Dia tidak tampan, juga tidak kaya. Di usianya yang ke 33 dia sudah punya 2 orang anak, istri yang setia dan ekonominya biasa-biasa saja. Tapi aku tidak tahu, kenapa aku malah jatuh cinta kepadanya.
Tiba-tiba air mataku jatuh menetes membasahi pipi. Sambil terisak kecil aku mendekap erat tubuhnya. Menangis dalam peluknya. Ada perasaan campur aduk yang menghujam ku. Semakin deras air mataku, semakin dia erat mendekapku.
“Bunda kenapa?”
“Bagaimana aku bisa jauh darimu ayah jika kau seperti ini?”, jawabku dalam isak tangis.
“Aku bingung, bunda kenapa menangis?”
“Aku hanya tak tahu harus bagaimana. Aku bukan yang sempurna. Aku pernah salah, aku pernah meninggalkanmu, aku punya masa lalu yang buruk.”
“Sudahlah bunda jangan seperti itu, ayah sudah memaafkan bunda, ayah bisa terima segala kekurangan dan kelebihan bunda, tolong jangan tinggalkan aku lagi”, pintanya sembari mengelus rambutku.
Seringkali aku merasa bersalah kepadanya. Dulu aku pernah menginggalkannya. Aku mengingkari janji ku. Aku hilang nyali ketika istrinya menelpon ku. Mengintrogasi kedekatanku dengan Wahyu. Berbeda saat aku berlibur ke pantai dengannya. Kita mengucap janji untuk melegalkan hubungan ini. Aku mau jadi yang kedua. Tapi ketika kudengar suara perempuannya, bak nuklir yang meledak menghancurkan nyali ku beterbangan bersama komitmen yang telah kita bangun bersama. Aku hilang arah dan meninggalkannya begitu saja. Menghilang dari akses hidupnya. Dalam pertanyaan besar yang tidak ia temukan jawabnya sampai pertemuan kita kembali di Bulan Juli lalu. Dia baru mengerti kenapa aku menghilang. Yang dia sayangkan aku tidak cerita kepadanya. Bahkan aku memvonis kecerobohannya sampai sang istri mengetahui hubungan ini. Mungkin aku begitu jahat padanya. Tapi ketakutanku jauh lebih besar daripada cinta ku. Bahkan ketika orang rumah menelpon, menceramahiku akibat kabar yang didapat dari istri Wahyu, mataku membelalak seketika, telinga serasa seperti kepiting rebus, panas memerah.
“Maafkan atas semua kesalahanku ya, aku janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku tak akan lari dari masalah”.
“Lantas jika dia tau bagaimana?”
“Aku akan mengakui cinta ku padamu, dan aku akan memintamu jadi suamiku”.
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin”
Kami berpelukan erat. Rasa damai menyelimutiku setiap kali aku bersamanya. Dan sekarang aku lebih tidak peduli jika suatu saat sang istri menemuiku, mau marah-marah ataupun membunuhku. Aku begitu yakin akan perasaanku saat ini. Tuhan, aku begitu mencintainya. Aku janji tidak akan meninggalkannya lagi apapun yang terjadi.
Kisah Cinta Dokter dan Rakyat
Kisah Cinta Dokter Dan Rakyat
Suatu hari saya pulang dengan kaki dingklang. Iya saya masih bisa mengingatnya, telapak kaki saya yang sebelah kanan terluka. Ada tusuk sate menancap di sana. Gara-garanya, saya bermain layang-layang di rel kereta api belakang rumah, berjalan mundur sambil berusaha menerbangkan layang-layang, lalu entah di langkah yang keberapa, tiba-tiba saya sudah menginjak tusuk sate yang ujungnya mengarah ke langit.
Saya pulang, dingklang, sakit, menangis. Oleh Ibuk, saya disuruh rebahan di atas ranjang. Tak lama berselang, beliau sudah sibuk mencari Bapak. Kemudian Bapak datang, melakukan pertolongan pertama sebisanya. Kata Bapak, saya akan baik-baik saja.
Hari berganti senja, lalu berganti lagi menjadi gelap. Wajah saya mulai membiru, menahan cenat-cenut yang tak tertahankan. Meskipun saat itu saya masih bocah, tapi saya tahu, Bapak sedang tidak punya uang. Pikir saya, mencoba diam dan merasa baik-baik saja akan membuat orang tua saya jauh lebih tenang. Tapi badan saya tidak mau diajak berkompromi. Saya mengalami demam yang hebat.
Pada tengah malam, Bapak memanggil Abang becak, lalu mengantarkan saya ke rumah dr. Husnan yang jarak rumahnya kira-kira hanya 200 meter dari rumah saya. Sesampainya di sana, dr. Husnan terlihat marah pada Bapak. Bapak semakin gelisah, mungkin karena dia tidak sedang di keadaan ekonomi yang baik.
Entah bagaimana lagi ceritanya, saya lupa. Yang saya ingat, saat itu telapak kaki kanan saya merasakan sesuatu yang dingin. Rasanya seperti ketumpahan spirtus. Rasa yang seperti ini saya alami kembali 2 - 3 tahun berikutnya, dengan dokter yang sama, di ruangan praktek yang sama pula, ketika saya disunat.
Kata orang, wajah dr. Husnan mirip sekali dengan Ikang Fawzi. Benar, beliau dokter umum yang tampan dan suka bercanda. Istrinya juga seorang dokter, dr. Lilik Laksmiati S.P, orangnya cantik dan ramah.
Kira-kira tahun 2003 - 2004, rumah pasangan dokter ini dijual ke Bupati Jember waktu itu (Abah Syamsul), begitu kata para tetangga saya. Setelahnya, dr. Lilik Laksmiati S.P membuka praktek sementara di ruang depan rumah saya. Meskipun saya jarang pulang ke rumah, tapi saya tahu, setiap sore di rumah saya ada antrean pasien.
Menurut kata orang, menyenangkan jika harus memeriksakan diri pada dokter Lilik, sebab belum diperiksa rasa sakit sudah menguap entah kemana. “Lho kok bisa?” tanya saya. Iya. Kata mereka, keramahan dan ketulusan dr. Lilik Laksmiati S.P lah yang membuat mereka tiba-tiba merasa baik-baik saja.
Setiap kali berjumpa di rumah, dokter Lilik selalu memaksa saya untuk diberikan suntikan bervitamin. Katanya, biar saya bisa gemuk. Tentu saja saya menolak. Bukan karena saya tidak ingin gemuk. Sesekali, ada juga terlintas keinginan untuk gemuk. Tapi saya takut disuntik. Lagipula, saya malu jika harus disuntik. Bokong saya tepos.
Pasangan dokter tersebut pernah membuat saya berpikir bahwa dokter adalah dewa-dewi dimata rakyat biasa. Dokter adalah sosok yang ‘harus’ ideal. Sabar, tulus, ikhlas, bertanggung jawab, tidak manja, dan lain sebagainya.
Hari pun berlalu. Saya tumbuh semakin dewasa. Perjumaan saya dengan dokter-dokter baik hati semakin bertambah, terlebih di wilayah bencana. Dulu ketika ada Banjir Bandang di daerah Jember (Panti), tak jauh di tempat saya berdiri, ada seorang dokter yang sedang memeluk tubuh kaku. Rupanya dia merasa terlambat untuk menolong seseorang, dan mungkin merasa bersalah.
Ada juga seorang dokter, kalau tidak salah namanya dr. Rini. Dia seorang dokter tentara yang berdinas di RS. DKT Jember. Cantik dan telaten dalam memperlakukan pasiennya. Salah seorang pasien dokter Rini adalah seorang perempuan mungil yang sekarang menjadi istri saya. Kalau tidak salah, itu tahun 2005 akhir. Entah apakah sekarang dr. Rini masih berdinas di RS. DKT Jember atau tidak.
Jangan khawatir tulisan ini tidak berimbang. Tenang saja, saya juga memiliki pengalaman berhadapan dengan pekerja medis yang brengsek. Tapi semua itu tidak pernah menggeser posisi dr. Husnan, dr. Lilik Laksmiati S.P, dr. Rini, dan mereka yang baik di bidangnya. Bahkan ketika Ibuk saya meninggal dunia di RSUD Dr. Soebandi Jember pada 24 Mei 2008, saya mengalami sesuatu yang buruk yang tidak seharusnya diterima oleh keluarga pasien, apalagi sedang berduka.
Itu sudah berlalu, sudah lama saya melupakan rasa pahitnya.
Dan akhir-akhir ini, ketika banyak orang menyoroti profesi dokter, mau tidak mau otak saya juga turut mengingat yang sudah-sudah. Syukurlah, sekuat tenaga saya meredamnya, dan mendekati berhasil.
Itu masih saya, bagaimana dengan memori seluruh rakyat Indonesia? Mudah untuk mengingat yang buruk, semudah melihat punggung orang lain. Ketika harus mengingat baik-baiknya, seperti melihat punggung kita sendiri. Sukar sekali rasanya.
Penilaian kelas rakyat pun terjadi dimana-mana. Di warung kopi, di gang-gang kampung, di sudut desa, dimana-mana. Mereka mulai bertanya-tanya, apa isi sumpah para dokter? Apakah untuk kepentingan perikemanusiaan, ataukah untuk kepentingan teman sejawat. Ketika pertanyaan semakin meruncing pada nasib pasien, jawaban terbaiknya, nyawa ada di tangan Tuhan. Bagaimana standart kesehatan di negeri ini? Dan masih sederet lagi pertanyaan-pertanyaan yang timbul tenggelam.
Kedua belah pihak seakan menggunakan aji mumpung. Mumpung hidup di sebuah negeri yang demokrasi, maka berdemolah para dokter. Yang lain berpikir, mumpung ada momentum bagus untuk membuat penilaian, maka dinilailah profesi dokter.
Peran Dokter di Masa Revolusi
Saya bersyukur sebab sering membaca kisah-kisah juru medis di masa kacau. Di masa perang, tak ada waktu bagi para dokter untuk melakukan aksi demo, toh buat apa. Mereka mendalami dunia medis sebab mereka ingin melakukan sesuatu pada sesama. Ingin bermanfaat dan ingin terbang sejauh hati nurani membawa.
Beberapa minggu setelah Proklamasi..
Ada saya baca di otobiografi dr. Soemarno tentang suasana kemerdekaan pada minggu pertama dan kedua bulan September 1945. Akan saya tuliskan kembali di sini.
Ada hal-hal baru yang muncul dalam masyarakat. Kalau seseorang berteriak “Siap!” atau “Mata-mata musuh!” atau terdengar pukulan beruntun pada tiang-tiang listrik, semua orang laki perempuan keluar dari rumah, siap membawa senjata untuk mengeroyok kalau-kalau ada mata-mata musuh yang tertangkap. Kalau terdengar bunyi tembakan, entah dari jarak sejauh manapun, semua harus bertiarap, seolah-olah musuh sudah nongol di depan hidung. Awas, kalau tidak mau tengkurap, bisa-bisa dianggap sebagai mata-mata musuh.
Sikap saling mencurigai dan setengah panik tersebut -tanpa disadari- merupakan akibat hasutan “software” musuh. Karena panik, cara berpikir rakyat menjadi kacau, tak wajar dan tak terkendalikan. Kecurigaan timbul dimana-mana, seakan-akan mata-mata musuh sudah menyusup di antara kita. Maka jika terdengar teriakan “Siap!” atau bunyi pukulan di tiang listrik, tak ada orang yang berani tinggal di dalam rumah atau enak-enak berdiri, takut dikira mata-mata musuh. Keadaan menuntut siapapun untuk siaga, bahkan meskipun Anda seorang dokter. Karena itu, walaupun tak sesuai dengan logika dr. Soemarno, tiap ada seruan “siap” dia pun bergegas keluar membawa benda apa pun yang dapat dipakai sebagai senjata, dan ikut bertiarap juga.
Sambil bertiarap, timbul bermacam-macam pikiran dalam benak dr. Soemarno. Iya, dia harus menentukan sikap: berjuang, berpraktek atau menuntut pendidikan yang lebih tinggi lagi sebagai calon spesialis, atau tetap tak menentu seperti saat itu. Akhirnya, keinginan untuk menjadi spesialis dikesampingkan, karena belum waktunya.
Selanjutnya..
Dalam suasana perang itu dapat dimengerti bahwa orang yang berpangku tangan mudah dituduh sebagai pengkhianat, apalagi orang-orang Belanda dan Indo yang berada dalam tahanan, mudah sekali dicap sebagai musuh yang harus dibasmi. Ketika itu, para dokter berusaha sedapat mungkin bersikap bijaksana, jangan sampai terjadi ekses main hakim sendiri, meskipun tindakan mencegah amuk massal mengandung resiko yang tidak ringan. Para dokter secara hati-hati tetap merawat para tawanan, memelihara kesehatan, mengawasi kebersihan dan makanan mereka atas dasar perikemanusiaan.
Hal diatas menangkis fitnahan Belanda bahwa negara kita yang baru saja merdeka dikuasai bandit-bandit dan kaum ekstrimis. Dengan demikian tugas dokter di masa revolusi bukan hanya dalam bidang pengobatan dan perawatan saja, tapi juga merealisasikan sila perikemanusiaan.
Masa revolusi adalah masa menjalani peran yang tidak mudah bagi seorang dokter, perawat, tenaga suka rela Palang Merah, dan lain-lain. Sangat memerlukan kesabaran, keteguhan hati, dan siap untuk dilupakan.
Kisah Romantis Antara Dokter dan Rakyat
Masa paska Prolamasi hingga masa Agresi Militer Belanda adalah masa yang sulit. Jangankan pengadaan obat-obatan, bahkan perban pun sulit untuk dijumpai. Nah, di masa itu, banyak diantara rakyat yang memotong-motong sprei tua untuk dijadikan perban darurat, dan digulung rapi agar siap dipakai setiap saat diperlukan. Indah nian, romantisnya tak kalah dengan kisah cinta antara Damarwulan dan Anjasmara.
Mendaratnya pasukan Inggris dan Gurkha di Surabaya juga menyisakan cerita tersendiri. Tentang pertempuran 10 Nopember 1945, tentang pejuang yang luka-luka, dan tentang pengungsian ribuan pasien. Dalam hal ini, dokter bukan satu-satunya yang memiliki peranan penting. Semuanya saling bahu membahu dan saling mensukseskan kegiatan pengungsian tersebut.
Ada banyak kisah pengungsian pasien. Apalagi setelah ditandatanganinya perjanjian renville. Indonesia ada di pihak yang tidak diuntungkan. Terjadi pemisahan wilayah. Pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI, maka terjadilah hijrah massal di beberapa titik. Di sini, peran antara rakyat dan pelaku medis terlihat manis sekali.
Banyak dari mereka yang terpisah dari anak istri dan keluarga yang lain. Kebanyakan dari para istri dan anak-anak tinggal di kota, tempat dimana Belanda merasa kembali berdaulat. Sungguh berat hidup di daerah gerilya dan terpisah dari orang-orang tercinta. Bagaimanapun juga, faktor keluarga sangat berarti bagi pelaksanaan tugas dan perjuangan.
Akhirnya banyak orang yang mulai melakukan penyamaran. Mereka menyamar, kemudian masuk ke dalam kota yang diduduki Belanda, demi menengok keselamatan keluarga. Dan semua itu sepenuhnya dibantu oleh masyarakat. Lagi-lagi, hubungan yang manis.
Masih banyak lagi kisah-kisah romantis antara dokter dan rakyat, jika kita ada niatan untuk memulungnya. Sebaliknya, ada pula cerita yang pahit jika kita berniat mengoleksinya, bahkan lahir pula pemikiran di masyarakat, “jika ada duit lebih baik memilih berobat ke luar negeri.”
Siapa yang salah? Hmmm, di suasana yang seperti ini, tidak patut rasanya saling menuding. Meskipun, dalam tulisan ini, saya tidak menyediakan solusi apapun.
Saya hanya berpikir, seandainya semua dokter seperti dr. Husnan dan dr. Lilik Laksmiati S.P yang bisa memberikan sugesti kesembuhan pada pasien dan keluarga, bahkan sebelum pasien diperiksa, yang ramah, yang bisa memberikan harapan, alangkah indahnya.
Sedikit Tambahan
Iya benar, di masa kolonial Belanda, tidak semua pribumi bisa dengan mudah mendaftarkan diri sebagai siswa calon dokter. Ketika akhirnya diterima, mereka juga diberi uang saku dan formulir ikatan dinas. Tapi itu di masa kolonial, masa dimana gagasan ’setara’ adalah sesuatu yang mahal. Ketika masa revolusi tiba, ceritanya berbeda.
Memilih untuk menjadi dokter adalah memilih untuk mengikuti panggilan hati nurani, bukan panggilan ekonomi apalagi gengsi. Jika seperti itu, terdengar manis sekali. Siapapun kita, ada baiknya saling instropeksi. Tidak baik jika terlalu sering memaki.
salam saya ercha melandary
Suatu hari saya pulang dengan kaki dingklang. Iya saya masih bisa mengingatnya, telapak kaki saya yang sebelah kanan terluka. Ada tusuk sate menancap di sana. Gara-garanya, saya bermain layang-layang di rel kereta api belakang rumah, berjalan mundur sambil berusaha menerbangkan layang-layang, lalu entah di langkah yang keberapa, tiba-tiba saya sudah menginjak tusuk sate yang ujungnya mengarah ke langit.
Saya pulang, dingklang, sakit, menangis. Oleh Ibuk, saya disuruh rebahan di atas ranjang. Tak lama berselang, beliau sudah sibuk mencari Bapak. Kemudian Bapak datang, melakukan pertolongan pertama sebisanya. Kata Bapak, saya akan baik-baik saja.
Hari berganti senja, lalu berganti lagi menjadi gelap. Wajah saya mulai membiru, menahan cenat-cenut yang tak tertahankan. Meskipun saat itu saya masih bocah, tapi saya tahu, Bapak sedang tidak punya uang. Pikir saya, mencoba diam dan merasa baik-baik saja akan membuat orang tua saya jauh lebih tenang. Tapi badan saya tidak mau diajak berkompromi. Saya mengalami demam yang hebat.
Pada tengah malam, Bapak memanggil Abang becak, lalu mengantarkan saya ke rumah dr. Husnan yang jarak rumahnya kira-kira hanya 200 meter dari rumah saya. Sesampainya di sana, dr. Husnan terlihat marah pada Bapak. Bapak semakin gelisah, mungkin karena dia tidak sedang di keadaan ekonomi yang baik.
Entah bagaimana lagi ceritanya, saya lupa. Yang saya ingat, saat itu telapak kaki kanan saya merasakan sesuatu yang dingin. Rasanya seperti ketumpahan spirtus. Rasa yang seperti ini saya alami kembali 2 - 3 tahun berikutnya, dengan dokter yang sama, di ruangan praktek yang sama pula, ketika saya disunat.
Kata orang, wajah dr. Husnan mirip sekali dengan Ikang Fawzi. Benar, beliau dokter umum yang tampan dan suka bercanda. Istrinya juga seorang dokter, dr. Lilik Laksmiati S.P, orangnya cantik dan ramah.
Kira-kira tahun 2003 - 2004, rumah pasangan dokter ini dijual ke Bupati Jember waktu itu (Abah Syamsul), begitu kata para tetangga saya. Setelahnya, dr. Lilik Laksmiati S.P membuka praktek sementara di ruang depan rumah saya. Meskipun saya jarang pulang ke rumah, tapi saya tahu, setiap sore di rumah saya ada antrean pasien.
Menurut kata orang, menyenangkan jika harus memeriksakan diri pada dokter Lilik, sebab belum diperiksa rasa sakit sudah menguap entah kemana. “Lho kok bisa?” tanya saya. Iya. Kata mereka, keramahan dan ketulusan dr. Lilik Laksmiati S.P lah yang membuat mereka tiba-tiba merasa baik-baik saja.
Setiap kali berjumpa di rumah, dokter Lilik selalu memaksa saya untuk diberikan suntikan bervitamin. Katanya, biar saya bisa gemuk. Tentu saja saya menolak. Bukan karena saya tidak ingin gemuk. Sesekali, ada juga terlintas keinginan untuk gemuk. Tapi saya takut disuntik. Lagipula, saya malu jika harus disuntik. Bokong saya tepos.
Pasangan dokter tersebut pernah membuat saya berpikir bahwa dokter adalah dewa-dewi dimata rakyat biasa. Dokter adalah sosok yang ‘harus’ ideal. Sabar, tulus, ikhlas, bertanggung jawab, tidak manja, dan lain sebagainya.
Hari pun berlalu. Saya tumbuh semakin dewasa. Perjumaan saya dengan dokter-dokter baik hati semakin bertambah, terlebih di wilayah bencana. Dulu ketika ada Banjir Bandang di daerah Jember (Panti), tak jauh di tempat saya berdiri, ada seorang dokter yang sedang memeluk tubuh kaku. Rupanya dia merasa terlambat untuk menolong seseorang, dan mungkin merasa bersalah.
Ada juga seorang dokter, kalau tidak salah namanya dr. Rini. Dia seorang dokter tentara yang berdinas di RS. DKT Jember. Cantik dan telaten dalam memperlakukan pasiennya. Salah seorang pasien dokter Rini adalah seorang perempuan mungil yang sekarang menjadi istri saya. Kalau tidak salah, itu tahun 2005 akhir. Entah apakah sekarang dr. Rini masih berdinas di RS. DKT Jember atau tidak.
Jangan khawatir tulisan ini tidak berimbang. Tenang saja, saya juga memiliki pengalaman berhadapan dengan pekerja medis yang brengsek. Tapi semua itu tidak pernah menggeser posisi dr. Husnan, dr. Lilik Laksmiati S.P, dr. Rini, dan mereka yang baik di bidangnya. Bahkan ketika Ibuk saya meninggal dunia di RSUD Dr. Soebandi Jember pada 24 Mei 2008, saya mengalami sesuatu yang buruk yang tidak seharusnya diterima oleh keluarga pasien, apalagi sedang berduka.
Itu sudah berlalu, sudah lama saya melupakan rasa pahitnya.
Dan akhir-akhir ini, ketika banyak orang menyoroti profesi dokter, mau tidak mau otak saya juga turut mengingat yang sudah-sudah. Syukurlah, sekuat tenaga saya meredamnya, dan mendekati berhasil.
Itu masih saya, bagaimana dengan memori seluruh rakyat Indonesia? Mudah untuk mengingat yang buruk, semudah melihat punggung orang lain. Ketika harus mengingat baik-baiknya, seperti melihat punggung kita sendiri. Sukar sekali rasanya.
Penilaian kelas rakyat pun terjadi dimana-mana. Di warung kopi, di gang-gang kampung, di sudut desa, dimana-mana. Mereka mulai bertanya-tanya, apa isi sumpah para dokter? Apakah untuk kepentingan perikemanusiaan, ataukah untuk kepentingan teman sejawat. Ketika pertanyaan semakin meruncing pada nasib pasien, jawaban terbaiknya, nyawa ada di tangan Tuhan. Bagaimana standart kesehatan di negeri ini? Dan masih sederet lagi pertanyaan-pertanyaan yang timbul tenggelam.
Kedua belah pihak seakan menggunakan aji mumpung. Mumpung hidup di sebuah negeri yang demokrasi, maka berdemolah para dokter. Yang lain berpikir, mumpung ada momentum bagus untuk membuat penilaian, maka dinilailah profesi dokter.
Peran Dokter di Masa Revolusi
Saya bersyukur sebab sering membaca kisah-kisah juru medis di masa kacau. Di masa perang, tak ada waktu bagi para dokter untuk melakukan aksi demo, toh buat apa. Mereka mendalami dunia medis sebab mereka ingin melakukan sesuatu pada sesama. Ingin bermanfaat dan ingin terbang sejauh hati nurani membawa.
Beberapa minggu setelah Proklamasi..
Ada saya baca di otobiografi dr. Soemarno tentang suasana kemerdekaan pada minggu pertama dan kedua bulan September 1945. Akan saya tuliskan kembali di sini.
Ada hal-hal baru yang muncul dalam masyarakat. Kalau seseorang berteriak “Siap!” atau “Mata-mata musuh!” atau terdengar pukulan beruntun pada tiang-tiang listrik, semua orang laki perempuan keluar dari rumah, siap membawa senjata untuk mengeroyok kalau-kalau ada mata-mata musuh yang tertangkap. Kalau terdengar bunyi tembakan, entah dari jarak sejauh manapun, semua harus bertiarap, seolah-olah musuh sudah nongol di depan hidung. Awas, kalau tidak mau tengkurap, bisa-bisa dianggap sebagai mata-mata musuh.
Sikap saling mencurigai dan setengah panik tersebut -tanpa disadari- merupakan akibat hasutan “software” musuh. Karena panik, cara berpikir rakyat menjadi kacau, tak wajar dan tak terkendalikan. Kecurigaan timbul dimana-mana, seakan-akan mata-mata musuh sudah menyusup di antara kita. Maka jika terdengar teriakan “Siap!” atau bunyi pukulan di tiang listrik, tak ada orang yang berani tinggal di dalam rumah atau enak-enak berdiri, takut dikira mata-mata musuh. Keadaan menuntut siapapun untuk siaga, bahkan meskipun Anda seorang dokter. Karena itu, walaupun tak sesuai dengan logika dr. Soemarno, tiap ada seruan “siap” dia pun bergegas keluar membawa benda apa pun yang dapat dipakai sebagai senjata, dan ikut bertiarap juga.
Sambil bertiarap, timbul bermacam-macam pikiran dalam benak dr. Soemarno. Iya, dia harus menentukan sikap: berjuang, berpraktek atau menuntut pendidikan yang lebih tinggi lagi sebagai calon spesialis, atau tetap tak menentu seperti saat itu. Akhirnya, keinginan untuk menjadi spesialis dikesampingkan, karena belum waktunya.
Selanjutnya..
Dalam suasana perang itu dapat dimengerti bahwa orang yang berpangku tangan mudah dituduh sebagai pengkhianat, apalagi orang-orang Belanda dan Indo yang berada dalam tahanan, mudah sekali dicap sebagai musuh yang harus dibasmi. Ketika itu, para dokter berusaha sedapat mungkin bersikap bijaksana, jangan sampai terjadi ekses main hakim sendiri, meskipun tindakan mencegah amuk massal mengandung resiko yang tidak ringan. Para dokter secara hati-hati tetap merawat para tawanan, memelihara kesehatan, mengawasi kebersihan dan makanan mereka atas dasar perikemanusiaan.
Hal diatas menangkis fitnahan Belanda bahwa negara kita yang baru saja merdeka dikuasai bandit-bandit dan kaum ekstrimis. Dengan demikian tugas dokter di masa revolusi bukan hanya dalam bidang pengobatan dan perawatan saja, tapi juga merealisasikan sila perikemanusiaan.
Masa revolusi adalah masa menjalani peran yang tidak mudah bagi seorang dokter, perawat, tenaga suka rela Palang Merah, dan lain-lain. Sangat memerlukan kesabaran, keteguhan hati, dan siap untuk dilupakan.
Kisah Romantis Antara Dokter dan Rakyat
Masa paska Prolamasi hingga masa Agresi Militer Belanda adalah masa yang sulit. Jangankan pengadaan obat-obatan, bahkan perban pun sulit untuk dijumpai. Nah, di masa itu, banyak diantara rakyat yang memotong-motong sprei tua untuk dijadikan perban darurat, dan digulung rapi agar siap dipakai setiap saat diperlukan. Indah nian, romantisnya tak kalah dengan kisah cinta antara Damarwulan dan Anjasmara.
Mendaratnya pasukan Inggris dan Gurkha di Surabaya juga menyisakan cerita tersendiri. Tentang pertempuran 10 Nopember 1945, tentang pejuang yang luka-luka, dan tentang pengungsian ribuan pasien. Dalam hal ini, dokter bukan satu-satunya yang memiliki peranan penting. Semuanya saling bahu membahu dan saling mensukseskan kegiatan pengungsian tersebut.
Ada banyak kisah pengungsian pasien. Apalagi setelah ditandatanganinya perjanjian renville. Indonesia ada di pihak yang tidak diuntungkan. Terjadi pemisahan wilayah. Pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI, maka terjadilah hijrah massal di beberapa titik. Di sini, peran antara rakyat dan pelaku medis terlihat manis sekali.
Banyak dari mereka yang terpisah dari anak istri dan keluarga yang lain. Kebanyakan dari para istri dan anak-anak tinggal di kota, tempat dimana Belanda merasa kembali berdaulat. Sungguh berat hidup di daerah gerilya dan terpisah dari orang-orang tercinta. Bagaimanapun juga, faktor keluarga sangat berarti bagi pelaksanaan tugas dan perjuangan.
Akhirnya banyak orang yang mulai melakukan penyamaran. Mereka menyamar, kemudian masuk ke dalam kota yang diduduki Belanda, demi menengok keselamatan keluarga. Dan semua itu sepenuhnya dibantu oleh masyarakat. Lagi-lagi, hubungan yang manis.
Masih banyak lagi kisah-kisah romantis antara dokter dan rakyat, jika kita ada niatan untuk memulungnya. Sebaliknya, ada pula cerita yang pahit jika kita berniat mengoleksinya, bahkan lahir pula pemikiran di masyarakat, “jika ada duit lebih baik memilih berobat ke luar negeri.”
Siapa yang salah? Hmmm, di suasana yang seperti ini, tidak patut rasanya saling menuding. Meskipun, dalam tulisan ini, saya tidak menyediakan solusi apapun.
Saya hanya berpikir, seandainya semua dokter seperti dr. Husnan dan dr. Lilik Laksmiati S.P yang bisa memberikan sugesti kesembuhan pada pasien dan keluarga, bahkan sebelum pasien diperiksa, yang ramah, yang bisa memberikan harapan, alangkah indahnya.
Sedikit Tambahan
Iya benar, di masa kolonial Belanda, tidak semua pribumi bisa dengan mudah mendaftarkan diri sebagai siswa calon dokter. Ketika akhirnya diterima, mereka juga diberi uang saku dan formulir ikatan dinas. Tapi itu di masa kolonial, masa dimana gagasan ’setara’ adalah sesuatu yang mahal. Ketika masa revolusi tiba, ceritanya berbeda.
Memilih untuk menjadi dokter adalah memilih untuk mengikuti panggilan hati nurani, bukan panggilan ekonomi apalagi gengsi. Jika seperti itu, terdengar manis sekali. Siapapun kita, ada baiknya saling instropeksi. Tidak baik jika terlalu sering memaki.
salam saya ercha melandary
Langganan:
Postingan (Atom)