Rasa Cintaku Ini
Kupandangi dua buah gantungan kunci darimu. Fotoku terpampang di situ
dan ada fotomu dibaliknya. “Terimakasih ya sayang gantungan kuncinya”.
Satu kecupan mesra mendarat di keningku. Damai yang aku rasakan.
“Maaf ya aku tadi gak balas bbmnya bunda, tadi sibuk. Sibuk bikin gantungan kunci itu maksudku”, katanya sembari tersenyum.
“Dasar ya ayah nakal deh suka ngerjain, tapi aku suka”, balasku.
Wahyu memang bukan sosok idaman wanita masa kini menurutku. Dia tidak
tampan, juga tidak kaya. Di usianya yang ke 33 dia sudah punya 2 orang
anak, istri yang setia dan ekonominya biasa-biasa saja. Tapi aku tidak
tahu, kenapa aku malah jatuh cinta kepadanya.
Tiba-tiba air mataku jatuh menetes membasahi pipi. Sambil terisak
kecil aku mendekap erat tubuhnya. Menangis dalam peluknya. Ada perasaan
campur aduk yang menghujam ku. Semakin deras air mataku, semakin dia
erat mendekapku.
“Bunda kenapa?”
“Bagaimana aku bisa jauh darimu ayah jika kau seperti ini?”, jawabku dalam isak tangis.
“Aku bingung, bunda kenapa menangis?”
“Aku hanya tak tahu harus bagaimana. Aku bukan yang sempurna. Aku pernah
salah, aku pernah meninggalkanmu, aku punya masa lalu yang buruk.”
“Sudahlah bunda jangan seperti itu, ayah sudah memaafkan bunda, ayah
bisa terima segala kekurangan dan kelebihan bunda, tolong jangan
tinggalkan aku lagi”, pintanya sembari mengelus rambutku.
Seringkali aku merasa bersalah kepadanya. Dulu aku pernah
menginggalkannya. Aku mengingkari janji ku. Aku hilang nyali ketika
istrinya menelpon ku. Mengintrogasi kedekatanku dengan Wahyu. Berbeda
saat aku berlibur ke pantai dengannya. Kita mengucap janji untuk
melegalkan hubungan ini. Aku mau jadi yang kedua. Tapi ketika kudengar
suara perempuannya, bak nuklir yang meledak menghancurkan nyali ku
beterbangan bersama komitmen yang telah kita bangun bersama. Aku hilang
arah dan meninggalkannya begitu saja. Menghilang dari akses hidupnya.
Dalam pertanyaan besar yang tidak ia temukan jawabnya sampai pertemuan
kita kembali di Bulan Juli lalu. Dia baru mengerti kenapa aku
menghilang. Yang dia sayangkan aku tidak cerita kepadanya. Bahkan aku
memvonis kecerobohannya sampai sang istri mengetahui hubungan ini.
Mungkin aku begitu jahat padanya. Tapi ketakutanku jauh lebih besar
daripada cinta ku. Bahkan ketika orang rumah menelpon, menceramahiku
akibat kabar yang didapat dari istri Wahyu, mataku membelalak seketika,
telinga serasa seperti kepiting rebus, panas memerah.
“Maafkan atas semua kesalahanku ya, aku janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku tak akan lari dari masalah”.
“Lantas jika dia tau bagaimana?”
“Aku akan mengakui cinta ku padamu, dan aku akan memintamu jadi suamiku”.
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin”
Kami berpelukan erat. Rasa damai menyelimutiku setiap kali aku
bersamanya. Dan sekarang aku lebih tidak peduli jika suatu saat sang
istri menemuiku, mau marah-marah ataupun membunuhku. Aku begitu yakin
akan perasaanku saat ini. Tuhan, aku begitu mencintainya. Aku janji
tidak akan meninggalkannya lagi apapun yang terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar