Selasa, 18 Maret 2014

Rasa Cintaku Ini

Rasa Cintaku Ini


Kupandangi dua buah gantungan kunci darimu. Fotoku terpampang di situ dan ada fotomu dibaliknya. “Terimakasih ya sayang gantungan kuncinya”. Satu kecupan mesra mendarat di keningku. Damai yang aku rasakan.
“Maaf ya aku tadi gak balas bbmnya bunda, tadi sibuk. Sibuk bikin gantungan kunci itu maksudku”, katanya sembari tersenyum.
“Dasar ya ayah nakal deh suka ngerjain, tapi aku suka”, balasku.
Wahyu memang bukan sosok idaman wanita masa kini menurutku. Dia tidak tampan, juga tidak kaya. Di usianya yang ke 33 dia sudah punya 2 orang anak, istri yang setia dan ekonominya biasa-biasa saja. Tapi aku tidak tahu, kenapa aku malah jatuh cinta kepadanya.
Tiba-tiba air mataku jatuh menetes membasahi pipi. Sambil terisak kecil aku mendekap erat tubuhnya. Menangis dalam peluknya. Ada perasaan campur aduk yang menghujam ku. Semakin deras air mataku, semakin dia erat mendekapku.
“Bunda kenapa?”
“Bagaimana aku bisa jauh darimu ayah jika kau seperti ini?”, jawabku dalam isak tangis.
“Aku bingung, bunda kenapa menangis?”
“Aku hanya tak tahu harus bagaimana. Aku bukan yang sempurna. Aku pernah salah, aku pernah meninggalkanmu, aku punya masa lalu yang buruk.”
“Sudahlah bunda jangan seperti itu, ayah sudah memaafkan bunda, ayah bisa terima segala kekurangan dan kelebihan bunda, tolong jangan tinggalkan aku lagi”, pintanya sembari mengelus rambutku.
Seringkali aku merasa bersalah kepadanya. Dulu aku pernah menginggalkannya. Aku mengingkari janji ku. Aku hilang nyali ketika istrinya menelpon ku. Mengintrogasi kedekatanku dengan Wahyu. Berbeda saat aku berlibur ke pantai dengannya. Kita mengucap janji untuk melegalkan hubungan ini. Aku mau jadi yang kedua. Tapi ketika kudengar suara perempuannya, bak nuklir yang meledak menghancurkan nyali ku beterbangan bersama komitmen yang telah kita bangun bersama. Aku hilang arah dan meninggalkannya begitu saja. Menghilang dari akses hidupnya. Dalam pertanyaan besar yang tidak ia temukan jawabnya sampai pertemuan kita kembali di Bulan Juli lalu. Dia baru mengerti kenapa aku menghilang. Yang dia sayangkan aku tidak cerita kepadanya. Bahkan aku memvonis kecerobohannya sampai sang istri mengetahui hubungan ini. Mungkin aku begitu jahat padanya. Tapi ketakutanku jauh lebih besar daripada cinta ku. Bahkan ketika orang rumah menelpon, menceramahiku akibat kabar yang didapat dari istri Wahyu, mataku membelalak seketika, telinga serasa seperti kepiting rebus, panas memerah.
“Maafkan atas semua kesalahanku ya, aku janji tak akan pernah meninggalkanmu lagi. Aku tak akan lari dari masalah”.
“Lantas jika dia tau bagaimana?”
“Aku akan mengakui cinta ku padamu, dan aku akan memintamu jadi suamiku”.
“Kamu yakin?”
“Sangat yakin”
Kami berpelukan erat. Rasa damai menyelimutiku setiap kali aku bersamanya. Dan sekarang aku lebih tidak peduli jika suatu saat sang istri menemuiku, mau marah-marah ataupun membunuhku. Aku begitu yakin akan perasaanku saat ini. Tuhan, aku begitu mencintainya. Aku janji tidak akan meninggalkannya lagi apapun yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar