Kisah Cinta Dokter Dan Rakyat
Suatu hari saya pulang dengan kaki dingklang. Iya saya masih
bisa mengingatnya, telapak kaki saya yang sebelah kanan terluka. Ada
tusuk sate menancap di sana. Gara-garanya, saya bermain layang-layang di
rel kereta api belakang rumah, berjalan mundur sambil berusaha
menerbangkan layang-layang, lalu entah di langkah yang keberapa,
tiba-tiba saya sudah menginjak tusuk sate yang ujungnya mengarah ke
langit.
Saya pulang, dingklang, sakit, menangis. Oleh Ibuk, saya
disuruh rebahan di atas ranjang. Tak lama berselang, beliau sudah sibuk
mencari Bapak. Kemudian Bapak datang, melakukan pertolongan pertama
sebisanya. Kata Bapak, saya akan baik-baik saja.
Hari berganti senja, lalu berganti lagi menjadi gelap. Wajah saya mulai
membiru, menahan cenat-cenut yang tak tertahankan. Meskipun saat itu
saya masih bocah, tapi saya tahu, Bapak sedang tidak punya uang. Pikir
saya, mencoba diam dan merasa baik-baik saja akan membuat orang tua saya
jauh lebih tenang. Tapi badan saya tidak mau diajak berkompromi. Saya
mengalami demam yang hebat.
Pada tengah malam, Bapak memanggil Abang becak, lalu mengantarkan saya
ke rumah dr. Husnan yang jarak rumahnya kira-kira hanya 200 meter dari
rumah saya. Sesampainya di sana, dr. Husnan terlihat marah pada Bapak.
Bapak semakin gelisah, mungkin karena dia tidak sedang di keadaan
ekonomi yang baik.
Entah bagaimana lagi ceritanya, saya lupa. Yang saya ingat, saat itu
telapak kaki kanan saya merasakan sesuatu yang dingin. Rasanya seperti
ketumpahan spirtus. Rasa yang seperti ini saya alami kembali 2 - 3 tahun
berikutnya, dengan dokter yang sama, di ruangan praktek yang sama pula,
ketika saya disunat.
Kata orang, wajah dr. Husnan mirip sekali dengan Ikang Fawzi. Benar,
beliau dokter umum yang tampan dan suka bercanda. Istrinya juga seorang
dokter, dr. Lilik Laksmiati S.P, orangnya cantik dan ramah.
Kira-kira tahun 2003 - 2004, rumah pasangan dokter ini dijual ke Bupati
Jember waktu itu (Abah Syamsul), begitu kata para tetangga saya.
Setelahnya, dr. Lilik Laksmiati S.P membuka praktek sementara di ruang
depan rumah saya. Meskipun saya jarang pulang ke rumah, tapi saya tahu,
setiap sore di rumah saya ada antrean pasien.
Menurut kata orang, menyenangkan jika harus memeriksakan diri pada
dokter Lilik, sebab belum diperiksa rasa sakit sudah menguap entah
kemana. “Lho kok bisa?” tanya saya. Iya. Kata mereka, keramahan
dan ketulusan dr. Lilik Laksmiati S.P lah yang membuat mereka tiba-tiba
merasa baik-baik saja.
Setiap kali berjumpa di rumah, dokter Lilik selalu memaksa saya untuk
diberikan suntikan bervitamin. Katanya, biar saya bisa gemuk. Tentu saja
saya menolak. Bukan karena saya tidak ingin gemuk. Sesekali, ada juga
terlintas keinginan untuk gemuk. Tapi saya takut disuntik. Lagipula,
saya malu jika harus disuntik. Bokong saya tepos.
Pasangan dokter tersebut pernah membuat saya berpikir bahwa dokter
adalah dewa-dewi dimata rakyat biasa. Dokter adalah sosok yang ‘harus’
ideal. Sabar, tulus, ikhlas, bertanggung jawab, tidak manja, dan lain
sebagainya.
Hari pun berlalu. Saya tumbuh semakin dewasa. Perjumaan saya dengan
dokter-dokter baik hati semakin bertambah, terlebih di wilayah bencana.
Dulu ketika ada Banjir Bandang di daerah Jember (Panti), tak jauh di
tempat saya berdiri, ada seorang dokter yang sedang memeluk tubuh kaku.
Rupanya dia merasa terlambat untuk menolong seseorang, dan mungkin
merasa bersalah.
Ada juga seorang dokter, kalau tidak salah namanya dr. Rini. Dia seorang
dokter tentara yang berdinas di RS. DKT Jember. Cantik dan telaten
dalam memperlakukan pasiennya. Salah seorang pasien dokter Rini adalah
seorang perempuan mungil yang sekarang menjadi istri saya. Kalau tidak
salah, itu tahun 2005 akhir. Entah apakah sekarang dr. Rini masih
berdinas di RS. DKT Jember atau tidak.
Jangan khawatir tulisan ini tidak berimbang. Tenang saja, saya juga
memiliki pengalaman berhadapan dengan pekerja medis yang brengsek. Tapi
semua itu tidak pernah menggeser posisi dr. Husnan, dr. Lilik Laksmiati
S.P, dr. Rini, dan mereka yang baik di bidangnya. Bahkan ketika Ibuk
saya meninggal dunia di RSUD Dr. Soebandi Jember pada 24 Mei 2008, saya
mengalami sesuatu yang buruk yang tidak seharusnya diterima oleh
keluarga pasien, apalagi sedang berduka.
Itu sudah berlalu, sudah lama saya melupakan rasa pahitnya.
Dan akhir-akhir ini, ketika banyak orang menyoroti profesi dokter, mau
tidak mau otak saya juga turut mengingat yang sudah-sudah. Syukurlah,
sekuat tenaga saya meredamnya, dan mendekati berhasil.
Itu masih saya, bagaimana dengan memori seluruh rakyat Indonesia? Mudah
untuk mengingat yang buruk, semudah melihat punggung orang lain. Ketika
harus mengingat baik-baiknya, seperti melihat punggung kita sendiri.
Sukar sekali rasanya.
Penilaian kelas rakyat pun terjadi dimana-mana. Di warung kopi, di
gang-gang kampung, di sudut desa, dimana-mana. Mereka mulai
bertanya-tanya, apa isi sumpah para dokter? Apakah untuk kepentingan
perikemanusiaan, ataukah untuk kepentingan teman sejawat. Ketika
pertanyaan semakin meruncing pada nasib pasien, jawaban terbaiknya,
nyawa ada di tangan Tuhan. Bagaimana standart kesehatan di negeri ini?
Dan masih sederet lagi pertanyaan-pertanyaan yang timbul tenggelam.
Kedua belah pihak seakan menggunakan aji mumpung. Mumpung hidup di
sebuah negeri yang demokrasi, maka berdemolah para dokter. Yang lain
berpikir, mumpung ada momentum bagus untuk membuat penilaian, maka
dinilailah profesi dokter.
Peran Dokter di Masa Revolusi
Saya bersyukur sebab sering membaca kisah-kisah juru medis di masa
kacau. Di masa perang, tak ada waktu bagi para dokter untuk melakukan
aksi demo, toh buat apa. Mereka mendalami dunia medis sebab
mereka ingin melakukan sesuatu pada sesama. Ingin bermanfaat dan ingin
terbang sejauh hati nurani membawa.
Beberapa minggu setelah Proklamasi..
Ada saya baca di otobiografi dr. Soemarno tentang suasana kemerdekaan
pada minggu pertama dan kedua bulan September 1945. Akan saya tuliskan
kembali di sini.
Ada hal-hal baru yang muncul dalam masyarakat. Kalau seseorang berteriak “Siap!” atau “Mata-mata musuh!”
atau terdengar pukulan beruntun pada tiang-tiang listrik, semua orang
laki perempuan keluar dari rumah, siap membawa senjata untuk mengeroyok
kalau-kalau ada mata-mata musuh yang tertangkap. Kalau terdengar bunyi
tembakan, entah dari jarak sejauh manapun, semua harus bertiarap,
seolah-olah musuh sudah nongol di depan hidung. Awas, kalau tidak mau
tengkurap, bisa-bisa dianggap sebagai mata-mata musuh.
Sikap saling mencurigai dan setengah panik tersebut -tanpa disadari- merupakan akibat hasutan “software”
musuh. Karena panik, cara berpikir rakyat menjadi kacau, tak wajar dan
tak terkendalikan. Kecurigaan timbul dimana-mana, seakan-akan mata-mata
musuh sudah menyusup di antara kita. Maka jika terdengar teriakan “Siap!”
atau bunyi pukulan di tiang listrik, tak ada orang yang berani tinggal
di dalam rumah atau enak-enak berdiri, takut dikira mata-mata musuh.
Keadaan menuntut siapapun untuk siaga, bahkan meskipun Anda seorang
dokter. Karena itu, walaupun tak sesuai dengan logika dr. Soemarno, tiap
ada seruan “siap” dia pun bergegas keluar membawa benda apa pun yang dapat dipakai sebagai senjata, dan ikut bertiarap juga.
Sambil bertiarap, timbul bermacam-macam pikiran dalam benak dr.
Soemarno. Iya, dia harus menentukan sikap: berjuang, berpraktek atau
menuntut pendidikan yang lebih tinggi lagi sebagai calon spesialis, atau
tetap tak menentu seperti saat itu. Akhirnya, keinginan untuk menjadi
spesialis dikesampingkan, karena belum waktunya.
Selanjutnya..
Dalam suasana perang itu dapat dimengerti bahwa orang yang berpangku
tangan mudah dituduh sebagai pengkhianat, apalagi orang-orang Belanda
dan Indo yang berada dalam tahanan, mudah sekali dicap sebagai musuh
yang harus dibasmi. Ketika itu, para dokter berusaha sedapat mungkin
bersikap bijaksana, jangan sampai terjadi ekses main hakim
sendiri, meskipun tindakan mencegah amuk massal mengandung resiko yang
tidak ringan. Para dokter secara hati-hati tetap merawat para tawanan,
memelihara kesehatan, mengawasi kebersihan dan makanan mereka atas dasar
perikemanusiaan.
Hal diatas menangkis fitnahan Belanda bahwa negara kita yang baru saja
merdeka dikuasai bandit-bandit dan kaum ekstrimis. Dengan demikian tugas
dokter di masa revolusi bukan hanya dalam bidang pengobatan dan
perawatan saja, tapi juga merealisasikan sila perikemanusiaan.
Masa revolusi adalah masa menjalani peran yang tidak mudah bagi seorang
dokter, perawat, tenaga suka rela Palang Merah, dan lain-lain. Sangat
memerlukan kesabaran, keteguhan hati, dan siap untuk dilupakan.
Kisah Romantis Antara Dokter dan Rakyat
Masa paska Prolamasi hingga masa Agresi Militer Belanda adalah masa yang
sulit. Jangankan pengadaan obat-obatan, bahkan perban pun sulit untuk
dijumpai. Nah, di masa itu, banyak diantara rakyat yang memotong-motong
sprei tua untuk dijadikan perban darurat, dan digulung rapi agar siap
dipakai setiap saat diperlukan. Indah nian, romantisnya tak kalah dengan
kisah cinta antara Damarwulan dan Anjasmara.
Mendaratnya pasukan Inggris dan Gurkha di Surabaya juga menyisakan
cerita tersendiri. Tentang pertempuran 10 Nopember 1945, tentang pejuang
yang luka-luka, dan tentang pengungsian ribuan pasien. Dalam hal ini,
dokter bukan satu-satunya yang memiliki peranan penting. Semuanya saling
bahu membahu dan saling mensukseskan kegiatan pengungsian tersebut.
Ada banyak kisah pengungsian pasien. Apalagi setelah ditandatanganinya
perjanjian renville. Indonesia ada di pihak yang tidak diuntungkan.
Terjadi pemisahan wilayah. Pihak Republik harus mengosongkan
wilayah-wilayah yang dikuasai TNI, maka terjadilah hijrah massal di
beberapa titik. Di sini, peran antara rakyat dan pelaku medis terlihat
manis sekali.
Banyak dari mereka yang terpisah dari anak istri dan keluarga yang lain.
Kebanyakan dari para istri dan anak-anak tinggal di kota, tempat dimana
Belanda merasa kembali berdaulat. Sungguh berat hidup di daerah gerilya
dan terpisah dari orang-orang tercinta. Bagaimanapun juga, faktor
keluarga sangat berarti bagi pelaksanaan tugas dan perjuangan.
Akhirnya banyak orang yang mulai melakukan penyamaran. Mereka menyamar,
kemudian masuk ke dalam kota yang diduduki Belanda, demi menengok
keselamatan keluarga. Dan semua itu sepenuhnya dibantu oleh masyarakat.
Lagi-lagi, hubungan yang manis.
Masih banyak lagi kisah-kisah romantis antara dokter dan rakyat, jika
kita ada niatan untuk memulungnya. Sebaliknya, ada pula cerita yang
pahit jika kita berniat mengoleksinya, bahkan lahir pula pemikiran di
masyarakat, “jika ada duit lebih baik memilih berobat ke luar negeri.”
Siapa yang salah? Hmmm, di suasana yang seperti ini, tidak patut rasanya
saling menuding. Meskipun, dalam tulisan ini, saya tidak menyediakan
solusi apapun.
Saya hanya berpikir, seandainya semua dokter seperti dr. Husnan dan dr.
Lilik Laksmiati S.P yang bisa memberikan sugesti kesembuhan pada pasien
dan keluarga, bahkan sebelum pasien diperiksa, yang ramah, yang bisa
memberikan harapan, alangkah indahnya.
Sedikit Tambahan
Iya benar, di masa kolonial Belanda, tidak semua pribumi bisa dengan
mudah mendaftarkan diri sebagai siswa calon dokter. Ketika akhirnya
diterima, mereka juga diberi uang saku dan formulir ikatan dinas. Tapi
itu di masa kolonial, masa dimana gagasan ’setara’ adalah sesuatu yang
mahal. Ketika masa revolusi tiba, ceritanya berbeda.
Memilih untuk menjadi dokter adalah memilih untuk mengikuti panggilan
hati nurani, bukan panggilan ekonomi apalagi gengsi. Jika seperti itu,
terdengar manis sekali. Siapapun kita, ada baiknya saling instropeksi.
Tidak baik jika terlalu sering memaki.
salam saya ercha melandary
Tidak ada komentar:
Posting Komentar